Minggu, 09 Desember 2018

Jarik Batikku Kebanggaanku


“Dasar wong ndeso!! “ , “Masa’ istri bule gendong anaknya pake jarik batik “ . Begitulah beberapa temanku mengomentari foto-foto di facebook ku yang menggambarkan aku sedang menggendong anakku menggunakan kain batik atau yang lebih dikenal dengan sebutan jarik. Sepertinya saat itu belum musim yang namanya program berbatik ria setiap hari jumat demi menunjukkan bahwa batik memang kepunyaan negeri kita bukan kepunyaan negeri tetangga kita.
Padahal sebenarnya harus diakuilah banyak juga lho orang kita yang malu pakai batik untuk dipakai sehari-harinya termasuk malu menggendong anaknya menggunakan jarik batik. Alasannya macam-macam, ada yang bilang jarik itu kuno, ketinggalan zaman, ndeso koyok simbah-simbah di kampung, lebih parah lagi ada yang menghina seperti iklan di TV “Harree Guinii masih pakai jarik?? Capeee deeh..”

Aku adalah ibu dari tiga orang anak dan dari mereka usia bayi aku menggendong anakku dengan gendongan jarik batik, tak peduli lagi apa kata orang lain yang melihatku. Memang sekarang banyak dijual gendongan kangguru, katanya lebih mudah penggunaannya seperti kita memakai tas ransel, mau gendong ke depan bisa, mau gendong ke belakang oke sajalah. Suka-suka yang mau gendong. Tapi... Tetap saja menurutku gendongan kangguru lebih rumit cara pakainya ketimbang jarik batik. Aku lebih suka jarik batik karena cara memakainya, sangat sederhana dan yang pasti niih.. bisa menyembunyikan bayi yang sedang menyusu ASI. Aku menggendong pakai jarik hanya sampai umur anak 2 tahun, jadi setelah lepas masa menyusui anak sudah tidak pakai jarik tapi gendongan yang lain ala backpacker, tentu saja tidak banyak menggendong anak lagi karena dia sudah bisa jalan kaki sendiri.

Kebiasaan menggendong anak pakai jarik batik pun tetap kulakukan saat mudik ke negeri suami di Hungary. Beberapa teman yang bule dan mereka juga mempunyai bayi terheran-heran melihatku menggendong bayiku dengan kain yang menurut mereka ukurannya pendek cuma 2 meter dan cara mengikat kain pun mudah sekali, lha iyalah di Eropa sana juga ada lho ibu-ibu yang memakai gendongan kain untuk bayinya, hanya saja kainnya jauh lebih panjang, mungkin 2x panjang jarik, dan cara ikatnya lebih rumit dari jarik, dikarenakan mereka lebih mengutamakan keselamatan bayi, malah terkadang butuh bantuan orang lain tuk memasukkan sang bayi ke dalam gendongannya.
Ketika mereka melihatku menggendong bayiku, mereka bertanya “apakah tradisi di negeriku menggendong bayi dengan jarik? Apakah tidak takut bayinya jatuh? Amankah untuk sang bayi?” Ya kalau dipikir-pikir memang tradisi dari zaman likiplik kali ya.. ibu-ibu di Indonesia kalau gendong bayinya pakai jarik dan aman-aman saja tuh..  :) 
Ibu-ibu bule itu mengetahui bayiku menyusu dan setelahnya tertidur nyenyak tetap berada dalam gendonganku. Mereka menjadi tertarik dan ingin memiliki jarik dan belajar cara menggunakannya. Oi..Oi.. betapa bangganya aku saat itu.  :) Untunglah aku membawa 2 jarik yang masih baru, yang tadinya ingin kupakai sendiri sebagai gonta-ganti akhirnya kuberikan kepada mereka. Mereka menyukai kain dan corak batik tersebut. Wow..
Di Hungary ada sebuah danau terbesar di negeri itu namanya Balaton, pernah suatu ketika aku duduk ditepiannya sambil menyusui anak dalam gendonganku. Tiba-tiba datang seorang laki-laki bule dan bertanya “ Apakah kamu orang Indonesia?”. Aku tersentak kaget dan dalam hati aku berseru “OMG, sebulan lebih aku di negeri ini, tidak pernah bertemu sesama orang Indonesia dan sebulan lebih ini aku hanya berbicara Bahasa Indonesia hanya dengan suami dan anak-anakku, tetapi sekarang ada orang bule bicara bahasa Indonesia denganku”. Akhirnya kujawab iya aku orang Indonesia. Lalu dia memanggil istrinya yang kebetulan saat itu memakai busana batik, rupanya mereka baru pulang dari pesta dan sudah seperti orang kita saja kalau ke acara resmi pakaiannya batik. :)
Rupanya mereka mengenaliku dari gendongan jarik, cara menggendong juga khas Indonesia katanya J Mereka senang sekali berjumpa denganku, beberapa kali sang istri mencium pipiku, mungkin kerinduan akan Indonesia membuatnya seperti itu. Aku pun juga senang rasanya seperti berjumpa orang sebangsa di negeri antah berantah.
Pernah juga suatu ketika aku bersama anak-anakku jalan-jalan di daerah perbelanjaan di pusat kota Budapest, tiba-tiba ada sepasang turis bule senyam-senyum dan menghampiriku, mereka jg bertanya apakah aku berasal dari Indonesia. Kujawab iya, mereka senang sekali jumpa denganku. Rupanya mereka sepasang bule dari Amerika yang sedang berlibur keliling Eropa. Mereka cerita kalau mereka pernah berwisata ke Indonesia, mereka suka Jogjakarta bukan Jakarta lho..weis... Mereka juga suka Bali, Lombok, mereka juga berharap suatu saat nanti akan datang lagi ke Indonesia. Mau tahu bagaimana mereka mengenaliku? Yup.. gendongan jarik itulah yang mereka kenali dari Indonesia. Begitulah.. terkadang tak terduga di negeri orang lain ada yang mengenali kebangsaanku hanya dari gendongan jarik yang kupakai.

Hingga anak ke tiga kemana-mana aku tetap bangga menggendong anakku dengan jarik, tak peduli tatapan hina orang lain. Hina? Eh gak percaya.. coba deh ke mall lalu hitung ada berapa ibu-ibu yang pakai gendongan jarik, sedikit kan?
Kalau lagi kedinginan ginih, kain jarik juga bermanfaat menjadi syal lho.

Bagaimana dengan kalian? Kuharap jangan malu tuk memakai batik, tidak hanya busananya, pakailah juga gendongan jarik batik tuk menggendong anak tercintamu, ciri khas bangsa juga lho... Ingat tiap hari Jumat, jangan lupa pakai batik ya... prikitiew.. :)


semua foto: dokumen pribadi
Tulisan ini sudah pernah publish di sini

Sabtu, 08 Desember 2018

Sepenggal Kisah Yang Terulang



Lambaian tanganmu & senyummu mengingatkanku pada sepenggal kisah

"Daaa... Ibuuu.." Engkau berdiri tepat di samping ranjang. Kulihat wajahmu yang cantik dengan rambut sebahu seraya melambaikan tangan, tersenyum manis sekali, lalu pergi meninggalkanku yang tak berdaya yang hanya mampu menggerakkan sedikit jari-jariku tuk membalas lambaianmu tanpa mampu berkata sepatah kata pun. Seketika perasaanku sedih melihatnya menjauhiku. 
"Ibu, tarik nafas yaa.. Kami akan berikan suntikan bius total dan operasi kuretase akan segera dilaksanakan," kata dokter kepadaku. Setelah itu aku tak tahu lagi  apa yang terjadi selama proses operasi. 
" Apakah operasi sudah selesai?", aku bergumam.
"Oh syukurlah ibu sudah sadar, operasinya sudah selesai, saya akan cek tensi ibu pasca operasi yaa.." jawab perawat yang tugas di  ruang itu. Hhhhmm... Rupanya operasi sudah selesai, aku harus menjalani operasi kuretase ini setelah pada usia 3 bulan kehamilanku sudah dipastikan tanpa janin, 'Blight Ovum' istilah kedokterannya.
Ahhh... sudah tak kupedulikan apa kata perawat tersebut, pikiranku galau, mengembara ke peristiwa sebelum operasi tadi. Rasa sedih memenuhi ruang hatiku. Wajah gadis cilik di ruang operasi tadi menghantuiku. Nak, siapa engkau? Wajahmu tak asing bagiku. Kita sepertinya kenal dekat. Kiranya engkaukah bakal putriku seharusnya? Kiranya anak perempuankah yang akan terlahir 6 bulan mendatang ? Tuhan, apakah kiranya wujud seperti itukah yang terlahir bila kandunganku baik-baik saja? Wajahmu cantik sekali nak, ah ya.. mirip wajah  abangmu bila memakai wig. Senyummu manis sekali, mirip senyumku saat bercermin atau saat di foto. Rambutmu lurus seperti rambut bapakmu, tidak keriting seperti rambutku. Kamu cantik seperti artis cilik di televisi. Sekarang kamu dimana nak? Ibu ingin jumpa lagi walau cuma sebentar saja. Hilangkanlah kesedihan di hati ibumu ini nak. Kesedihan karena harus melepasmu.
Samar terdengar suara langkah sepatu mendekatiku, "Ibu, operasinya berjalan baik, sekarang ibu istirahat, jangan banyak pikiran dan khawatir yaa.. biasanya 3 bulan setelah ini ibu bisa hamil lagi." Kata dokter yang membesukku, ia baik membesarkan hatiku.
Benarlah kata dokter, selang 3 bulan kemudian aku hamil lagi, kali ini aku merahasiakan kehamilanku pada siapapun kecuali suamiku. Ia sangat mengerti perasaanku yang takut akan kehilangan anak lagi. Setelah  melewati 7 bulan barulah kukabari keluarga besarku  akan kabar bahagia ini. Untunglah mereka mau mengerti pula mengapa aku merahasiakan dulu berita gembira ini.
Dan akhirnya waktu yang dinanti telah tiba, putriku lahir dengan selamat, ia bayi yang lucu, betapa kami  sangat senang dan menyayanginya. Aku lebih senang karena aku sekarang sudah mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Lengkaplah sudah kebahagiaanku. Hari-hariku kini terisi oleh suara anak-anak, hidupku kuabdikan pada rumahtanggaku, kulepas karirku demi keluarga kecilku. Dunia anak-anak memenuhi ruang waktuku, rasa-rasanya waktu 24 jam masih kurang demi memenuhi tugas seorang ibu. Kadang mereka menangis, kadang mereka tertawa, kadang mereka berteriak. Begitupun aku, kadang harus marah melerai anak-anak yang bertengkar, kadang kami tertawa bersama saat bermain ataupun menonton film di TV atau di  bioskop. 
Tugas seorang ibu melelahkan  tapi sangat menyenangkan pula, ada kepuasan tersendiri manakala melihat mereka mulai mandiri sedikit demi sedikit. Tanpa terasa putraku sudah berumur 8 tahun dan putriku sudah berumur 4 tahun. 
" Daaa... Ibuuu... aku pergi sekolah dulu yaa.. cepat sembuh ya buuu.." Putriku berdiri di samping ranjangku, berpamitan dan melambaikan tangannya lalu meninggalkanku yang terbaring lemah tak berdaya ini. Kata dokter aku kelelahan dan butuh istirahat total kurang lebih satu minggu. Sudah lama aku tidak pernah sakit seperti ini.
 Tapii... Tunggu sebentar.. Lambaian tangan dan wajah putriku barusan mengingatkanku pada sepenggal kisah, kisah siapa? kisah yang seperti terulang kembali. Oh Tuhan... Lambaian tangan dan wajah putriku mirip dengan gadis kecil di ruang operasi dulu, 5 tahun yang lalu gadis itu  juga melambaikan tangan dan tersenyum saat berpamitan meninggalkanku. Wajah gadis kecil itu tergambar mirip di wajah putriku. Anakku, maafkan ibumu ini nak, ibu tak bermaksud melupakanmu selama ini, terimakasih ibu bisa melihatmu di wajah adikmu. Percayalah ibu selalu mencintaimu di dalam lubuk hati ibu. Tuhan, jangan Kau ambil lagi  nyawa  putriku, berilah aku waktu tuk merawat dan menyayanginya, panjangkanlah umur anak-anakku, tercapaikanlah cita-citanya, bahagiakanlah kami dunia dan akhirat . Amiin. 
136328307163555907


Semua foto dokumentasi pribadi

Fiksi ini pernah publish di sini