Sabtu, 08 Desember 2018

Sepenggal Kisah Yang Terulang



Lambaian tanganmu & senyummu mengingatkanku pada sepenggal kisah

"Daaa... Ibuuu.." Engkau berdiri tepat di samping ranjang. Kulihat wajahmu yang cantik dengan rambut sebahu seraya melambaikan tangan, tersenyum manis sekali, lalu pergi meninggalkanku yang tak berdaya yang hanya mampu menggerakkan sedikit jari-jariku tuk membalas lambaianmu tanpa mampu berkata sepatah kata pun. Seketika perasaanku sedih melihatnya menjauhiku. 
"Ibu, tarik nafas yaa.. Kami akan berikan suntikan bius total dan operasi kuretase akan segera dilaksanakan," kata dokter kepadaku. Setelah itu aku tak tahu lagi  apa yang terjadi selama proses operasi. 
" Apakah operasi sudah selesai?", aku bergumam.
"Oh syukurlah ibu sudah sadar, operasinya sudah selesai, saya akan cek tensi ibu pasca operasi yaa.." jawab perawat yang tugas di  ruang itu. Hhhhmm... Rupanya operasi sudah selesai, aku harus menjalani operasi kuretase ini setelah pada usia 3 bulan kehamilanku sudah dipastikan tanpa janin, 'Blight Ovum' istilah kedokterannya.
Ahhh... sudah tak kupedulikan apa kata perawat tersebut, pikiranku galau, mengembara ke peristiwa sebelum operasi tadi. Rasa sedih memenuhi ruang hatiku. Wajah gadis cilik di ruang operasi tadi menghantuiku. Nak, siapa engkau? Wajahmu tak asing bagiku. Kita sepertinya kenal dekat. Kiranya engkaukah bakal putriku seharusnya? Kiranya anak perempuankah yang akan terlahir 6 bulan mendatang ? Tuhan, apakah kiranya wujud seperti itukah yang terlahir bila kandunganku baik-baik saja? Wajahmu cantik sekali nak, ah ya.. mirip wajah  abangmu bila memakai wig. Senyummu manis sekali, mirip senyumku saat bercermin atau saat di foto. Rambutmu lurus seperti rambut bapakmu, tidak keriting seperti rambutku. Kamu cantik seperti artis cilik di televisi. Sekarang kamu dimana nak? Ibu ingin jumpa lagi walau cuma sebentar saja. Hilangkanlah kesedihan di hati ibumu ini nak. Kesedihan karena harus melepasmu.
Samar terdengar suara langkah sepatu mendekatiku, "Ibu, operasinya berjalan baik, sekarang ibu istirahat, jangan banyak pikiran dan khawatir yaa.. biasanya 3 bulan setelah ini ibu bisa hamil lagi." Kata dokter yang membesukku, ia baik membesarkan hatiku.
Benarlah kata dokter, selang 3 bulan kemudian aku hamil lagi, kali ini aku merahasiakan kehamilanku pada siapapun kecuali suamiku. Ia sangat mengerti perasaanku yang takut akan kehilangan anak lagi. Setelah  melewati 7 bulan barulah kukabari keluarga besarku  akan kabar bahagia ini. Untunglah mereka mau mengerti pula mengapa aku merahasiakan dulu berita gembira ini.
Dan akhirnya waktu yang dinanti telah tiba, putriku lahir dengan selamat, ia bayi yang lucu, betapa kami  sangat senang dan menyayanginya. Aku lebih senang karena aku sekarang sudah mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Lengkaplah sudah kebahagiaanku. Hari-hariku kini terisi oleh suara anak-anak, hidupku kuabdikan pada rumahtanggaku, kulepas karirku demi keluarga kecilku. Dunia anak-anak memenuhi ruang waktuku, rasa-rasanya waktu 24 jam masih kurang demi memenuhi tugas seorang ibu. Kadang mereka menangis, kadang mereka tertawa, kadang mereka berteriak. Begitupun aku, kadang harus marah melerai anak-anak yang bertengkar, kadang kami tertawa bersama saat bermain ataupun menonton film di TV atau di  bioskop. 
Tugas seorang ibu melelahkan  tapi sangat menyenangkan pula, ada kepuasan tersendiri manakala melihat mereka mulai mandiri sedikit demi sedikit. Tanpa terasa putraku sudah berumur 8 tahun dan putriku sudah berumur 4 tahun. 
" Daaa... Ibuuu... aku pergi sekolah dulu yaa.. cepat sembuh ya buuu.." Putriku berdiri di samping ranjangku, berpamitan dan melambaikan tangannya lalu meninggalkanku yang terbaring lemah tak berdaya ini. Kata dokter aku kelelahan dan butuh istirahat total kurang lebih satu minggu. Sudah lama aku tidak pernah sakit seperti ini.
 Tapii... Tunggu sebentar.. Lambaian tangan dan wajah putriku barusan mengingatkanku pada sepenggal kisah, kisah siapa? kisah yang seperti terulang kembali. Oh Tuhan... Lambaian tangan dan wajah putriku mirip dengan gadis kecil di ruang operasi dulu, 5 tahun yang lalu gadis itu  juga melambaikan tangan dan tersenyum saat berpamitan meninggalkanku. Wajah gadis kecil itu tergambar mirip di wajah putriku. Anakku, maafkan ibumu ini nak, ibu tak bermaksud melupakanmu selama ini, terimakasih ibu bisa melihatmu di wajah adikmu. Percayalah ibu selalu mencintaimu di dalam lubuk hati ibu. Tuhan, jangan Kau ambil lagi  nyawa  putriku, berilah aku waktu tuk merawat dan menyayanginya, panjangkanlah umur anak-anakku, tercapaikanlah cita-citanya, bahagiakanlah kami dunia dan akhirat . Amiin. 
136328307163555907


Semua foto dokumentasi pribadi

Fiksi ini pernah publish di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar